Hal paling sulit untuk dilakukan kebanyakan orang adalah mengampuni.
Bibir mungkin memang mudah untuk melepas pengampunan, namun di dalam hati masih tersimpan luka dan kecewa yang cukup dalam.
Mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain tidaklah mudah.
Lukas 17:3
Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.
Mengampuni itu memang berat namun penuh berkat. Mengampuni tidak hanya sekadar kata-kata, melainkan hatilah yang berbicara.
Mengampuni itu tidaklah mudah, namun selalu berakhir indah.
Tanpa pengampunan, perselisihan itu akan tetap ada dan bila dipelihara akan menghasilkan perpecahan.
Orang yang dengan mudah mengampuni bukanlah mereka yang selalu kalah dan memiliki nyali yang penakut. Justru dengan mengampuni, mereka memiliki kesabaran yang tak terkalahkan.
Hanya orang-orang yang hebat di hadapan Tuhanlah yang bisa mengampuni berkali-kali.
Mengampuni tidak menunjukkan diri kita lemah, justru dengan mengampuni akan membebaskan kita dari segala bentuk sakit hati. Menahan sakit hati tidak akan membuat orang lain berubah menjadi baik, justru akan membuat hidup kita semakin buruk.
Ampunilah sesama seperti Tuhan yang selalu mengampuni pelanggaran kita. Jangan ingat-ingat kesalahan sesama, seperti Tuhan yang tak pernah mengingat-ingat dosa kita.
Mengampuni itu melupakan kepahitan dan segala bentuk sakit hati. Mengampuni itu mengasihi.
Luka di dalam hati membutuhkan proses untuk sembuh. Sama halnya dengan luka secara fisik, membutuhkan waktu dan obat untuk menyembuhkannya.
Luka hati membutuhkan Tuhan untuk sembuh. Tuhan yang sanggup membalut dan menghapus kecewa dalam hati.
Doa adalah obat untuk memulihkan luka. Bukan dengan berdoa sekali, lalu luka itu hilang.
Kita harus berdoa berkali-kali, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun agar dapat melepaskan pengampunan. Orang yang berdoa akan selalu mendapat kekuatan untuk melawan akar pahit.
Selamat melepaskan pengampunan dan selamat menikmati berkat-berkat-Nya.
Tuhan Yesus Memberkati. Amin
